Jambi - Kampanye pencegahan serta penanggulangan penyakit Human Immunodeficiency Virus Infection and Aquired Immune Deficiency Syndrome (H1*V/41D5) selama ini ternyata belum efektif menekan masalah H1*V/41D5 di Provinsi Jambi. Hal itu terbukti dari selalu meningkatnya penderita H1*V/41D5 di daerah itu.
Manajer Program Komisi Penanggulangan 41D5 (KPA) Provinsi Jambi, Ferdi di Jambi, Minggu (10/4) menjelaskan, angka masalah H1*V/41D5 di Jambi saat ini tergolong sangat tinggi. Hal tersebut terlihat dari angka masalah H1*V41D5 di Jambi yang sampai kini sudah mencapai 1. 349 kasus.
“Dari total masalah H1*V/41D5 tersebut, sekitaran 788 kasus terinveksi H1*V serta 561 masalah positif 41D5. Sedang jumlah penderita 41D5 yang meninggal dunia di daerah itu sejak 1999 – 2015 mencapai 231 orang. Jadi korban meninggal akibat 41D5 di Jambi rata-rata 15 orang setiap tahun, ”katanya.
Menurut Ferdi, tingginya masalah H1*V/41D5 di Jambi sulit ditanggulangi akibat banyak praktik prostitusi terselubung. Tertutupnya prostitusi di daerah itu menyebabkan bebrapa usaha kampanye pencegahan serta penanggulangan H1*V/41D5 tidak dapat dilakukan efisien. Kampanye mencegah serta penanggulangan H1*V/41D5 ke tempat-tempat hiburan, penginapan serta salon-salon kecantikan tidak dapat menjangkau mereka yang berisiko tinggi tertular H1*V/41D5.
“Pengalaman kami di lapangan, lebih efisien melakukan kampanye mencegah serta penanggulangan H1*V/41D5 ke lokalisasi. Kampanye di lokalisasi dapat mencapai semua orang berisiko tinggi tertular H1*V/41D5. Lalu pengawasan penghuni lokalisasi juga lebih mudah dilakukan, ”katanya.
Dijelaskan, pasca penutupan dua lokalisasi prostitusi di Jambi dua tahun terakhir, penularan masalah H1*V/41D5 melalui prostitusi terselubung makin tinggi. Hal itu tampak dari angka orang berisiko tinggi tertular H1*V/41D5 yang lakukan praktek prostitusi secara terselubung. Jumlah orang berisiko tinggi tertular H1*V/41D5 yang melakukan hubungan 53k5 di beberapa lokasi prostitusi terselubung di Jambi hingga tahun 2015 rata-rata 1. 300 orang/malam.
“Sekitar 1. 040 orang atau 80% orang berisiko tinggi H1*V/41D5 yang melakukan hubungan 53K5 di tempat prostitusi terselubung tersebut terdapat di Kota Jambi. Tingginya masalah tersebut akibat penutupan dua lokalisasi di Jambi, ”ujarnya.
Secara terpisah, Kepala Tubuh Pemberdayaan Wanita dan Pemberdayaan Masyarakat (B3M) Provinsi Jambi, Eni Haryati menyampaikan, sulitnya mencegah serta penanggulangan H1*V/41D5 di Jambi banyak di pengaruhi faktor sosial masyarakat. Baik itu faktor kurangnya kepedulian masyarakat pada praktik prostitusi terselubung, maupun kurangnya perhatian masyarakat pada kehadiran orang berisiko tinggi H1*V/41D5.
“Untuk menekan masalah H1*V/41D5 ini, kami selalu membangun jaringan ke beragam golongan masyarakat. Pembangunan jaringan tersebut ditujukan mempermudah kampanye pencegahan serta penanggulangan H1*V/41D5 ke semua kelompok masyarakat, ”katanya.
Suara Pembaruan
Radesman Saragih/FMB
